by

Budidaya Kangkung untuk Pakan Ternak, Harapan Baru Petani Mbay

Risa Roga
Mbay, Aksara Nusa

Kamis (21/08/2020) sore, pada areal persawahan Pintu 2A.1 Kanan Kobarosa-Penginanga Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo, sepasang suami istri tampak sedang memanen sepetak penuh sayur kangkung yang tumbuh subur dan rimbun. Mereka adalah Petrus Kota, pria asal Selalejo Kecamatan Mauponggo dan istrinya Modesta Ito, perempuan asal Kotakeo Kecamatan Nangaroro.

Petrus Kota bertugas memotong batang-batang kangkung menggunakan sebilah arit tajam, sementara istrinya Modesta Aso, bertugas mengumpulkan batang-batang kangkung, menumpuknya menjadi gundukan cukup besar, lalu mengikatnya dengan tali plastik. Satu ikat kangkung  berharga Rp 5000 tersebut akan dijual Petrus di Pasar Danga. Pembelinya adalah para peternak babi, peternak ayam super dan peternak bebek.

Mbay
Petrus Kota sedang memanen kangkung

Petrus Kota mengisahkan bahwa dirinya menanam kangkung untuk pakan ternak sejak Bulan Agustus 2019 yang lalu. “Sudah hampir setahun saya bertani kangkung pada lahan kurang lebih seluas 1/4 hektar. Dan saya sangat bersyukur telah mengambil keputusan untuk bertani kangkung,” katanya.

Petrus mengungkapkan bahwa budidaya kangkung ternyata sangat mudah dan tidak membutuhkan modal besar. “Saya hanya perlu membeli bibit satu kali saja untuk setiap satu hingga dua tahun. Sebab, kangkung dipanen dengan cara dipotong, dan kangkung akan dengan mudah tumbuh lagi. Sementara soal pemupukan dan pengairan juga tidak seberapa sulit, jauh lebih mudah dan murah dari biaya produksi padi. Hal lain yang menguntungkan dari bertani kangkung adalah ketika telat dipanen, kangkung malah tumbuh semakin besar dan rimbun ” ungkapnya.

Kabupaten Nagekeo
Petrus Kota dan istrinya Modesta Ito, bergambar dengan latar belakang tanaman kangkung milik mereka

Hal yang paling  menyenangkan, lanjut Petrus adalah dirinya dapat memanen kangkung setiap 21 hari atau tiga minggu saja. “Setiap kali panen, saya dapat memperoleh total pemasukan sekitar Rp 3.000.000. Jumlah tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan biaya produksi dan pemeliharaan kangkung yang sangat murah,” lanjutnya.

Petrus mengaku bahwa uang hasil penjualan kangkung digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan membiayai sekolah tiga orang anaknya. ” Sebagian uang hasil tanaman kangkung, saya gunakan juga untuk membayar biaya traktor, biaya pemupukan dan lain-lain untuk padi saya,” tambahnya.

Kangkung
Lahan kangkung milik Petrus Kota

Petrus menyatakan bahwa selama kurang lebih setahun menanam kangkung, dirinya tidak menemui kesulitan berarti. “Kesulitan terbesar saya adalah masalah pengairan. Sebab sawah saya berada di bagian paling ujung, sehingga selama ini saya dan 5 orang pemilik lahan lainnya selalu mengalami kesulitan air. Kalau boleh, saya minta agar pemerintah dapat mengatur ulang soal pengairan, sehingga sawah kami tidak kekeringan,” harapnya.

Istri Petrus, Modesta Aso menjelaskan bahwa meskipun bertani kangkung, dirinya dan suaminya masih tetap menanam padi. “Memang hasilnya sangat berbeda, antara kangkung dan padi. Kangkung dapat dipanen dalam waktu tiga minggu, berbeda dengan padi yang baru dapat dipanen setelah 4 bulan. Biaya pemeliharaan kangkung sangat murah, sebaliknya biaya produksi padi sangat tinggi. Jadi kalau dipikir-pikir, rasa-rasanya saya lebih baik bertanam kangkung saja daripada padi,” katanya sambil tersenyum.

Kisah yang kurang lebih sama dialami oleh Saverinus Siga, petani kangkung di KM 2A.1 Kiri Desa Marapokot Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo. Saverinus telah bertanam kangkung sejak tahun 2017 yang lalu, pada lahan seluas 1/4 hektar.

Pakan ternak
Saverinus Siga, salah satu petani kangkung di Mbay

“Selama saya bertanam kangkung, hasilnya tidak pernah mengecewakan. Saya menerapkan masa rotasi tanam, jadi setiap saat selalu ada kangkung yang dapat dipanen,” katanya. Saverinus pun mengakui bahwa jika ditotal, pendapatannya dari 1/4 hektar tanaman kangkung dapat mencapai Rp 3.000.000.

“Saat ini saja, saya sedang memanen untuk pelanggan saya dari Kabupaten Ngada sebanyak 150 ikat kangkung. Jika dihargai Rp 5000 per ikat, hasilnya sudah Rp 750.000. Tetapi untuk pelanggan setia saya, saya memberi harga special yaitu 3 ikat kangkung Rp 10.000,” jelasnya.

Petani kangkung
Pekerja sedang memanen kangkung di lahan milik Saverinus Siga

Saverinus menyatakan bahwa tidak ada kerugian dari bertanam kangkung. “Saya sendiri punya ternak babi, ayam, bebek dan kambing. Jika tidak laku dijual, kangkung saya berikan sebagai pakan ternak saya. Tetapi sejujurnya, peminat kangkung sangat banyak, bahkan hingga ke kabupaten tetangga,” urainya.

Khasiat sayur kangkung
Tumpukan kangkung yang telah siap dipasarkan

Saverinus yang telah lanjut usia tersebut mengharapkan agar langkahnya dapat diikuti generasi muda. “Saya berpesan kepada anak-anak muda untuk jangan malu bertani, terlebih bertani kangkung. Dalam waktu tiga minggu saja kita bisa dapat uang. Dan harus diingat bahwa hampir semua orang Flores memelihara ternak babi, ayam dan bebek. Karena itu, kebutuhan akan kangkung sebagai pakan, akan terus ada. Jadi jangan malu bertani kangkung. Kangkung adalah harapan baru petani Mbay,” tutupnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

News Feed