by

Dugaan Kekerasaan Seksual di TTS, Pelaku Diancam Hukuman 15 Tahun Penjara

WB, pelaku dugaan kekerasaan seksual terhadap anak di bawah umur IN (16), yang terjadi di Desa Basmuti Kecamatan Kuanfatu Kabupaten TTS, WB, diancam hukuman 15 tahun penjara. Hal tersebut disampaikan Kapolres TTS AKBP Andre Libria, S,IK melalui Kasat Reskrim Iptu Mahdi Dejan Ibrahim, SH, Sabtu (25/09/2021).

“Sesuai Pasal 81 Ayat 1 Undang-undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, maka pelaku diancam hukuman 15 tahun penjara,” katanya.

Kasat Mahdi menguraikan kronologi kejadian dugaan tindak kekerasaan seksual tersebut. Menurutnya, pelaku WB (16) dan korban IN (16) berstatus pacaran dan keduanya merupakan warga Desa Basmuti Kecamatan Kuanfatu Kabupaten TTS.

“Pelaku WB diduga melakukan tindak pidana persetubuhan terhadap korban IN selama berulang kali, yaitu sejak tanggal 27 Juni 2021 sampai dengan tanggal 29 Juli 2021. Kejadian pertama kali terjadi pada tanggal 27 Juni 2021 sekitar pukul 00.30 WITA, bertempat di rumah korban yg beralamat di Desa Basmuti, Kecamatan Kuanfatu,” katanya.

Kasat Mahdi menjelaskan bahwa kejadian bermula saat orang tua korban pergi ke Desa Bena untuk melayat. Kakak pelaku atas nama IT mengajak IN untuk menginap di rumahnya. “Pada saat itu, korban, pelaku, adik pelaku serta kakak pelaku menonton televisi bersama. Beberapa saat kemudian, datang tiga orang teman pelaku untuk bersama-sama menonton televisi. Ketiganya pulang
sekitar pukul 23.00 WITA. Pelaku kemudian mematikan meteran listrik milik kakak pelaku, lalu mengajak korban keluar ke depan rumah,” jelasnya.

Kasat Mahdi melanjutkan bahwa pelaku mengajak korban untuk bersetubuh, namun korban menolak. Pelaku terus membujuk korban dan berjanji akan bertanggung jawab apabila korban hamil. Korban yang marah kemudian pulang ke rumahnya yang berjarak kurang lebih 20 meter dari rumah kakak pelaku.

“Melihat korban pulang, pelaku kembali menghidupkan listrik dan pergi mengikuti korban ke rumah korban. Pelaku masuk ke dalam rumah, menutup pintu serta menguncinya dari dalam. Pelaku langsung memeluk dan menyetubuhi korban. Korban berusaha melawan namun tidak berhasil. Saat pelaku menyetubuhi korban, orang tua korban pulang dari Desa Bena. Pelaku langsung berhenti dan melarikan diri. Ayah korban sempat melihat pelaku dan mengejar pelaku, namun tidak berhasil menangkap pelaku,” ungkapnya.

Selanjudnya korban memberitahu orang tuanya bahwa dirinya telah disetubuhi oleh pelaku, sehingga orang tua korban memanggil orang tua pelaku untuk memberitahukan kejadian tersebut.

“Keesokan harinya, orang tua pelaku bersama keluarga datang ke rumah korban dan membicarakan masalah tersebut. Orang tua korban tidak mau memperpanjang masalah, namun memberi syarat agar korban jangan diganggu sampai selesai sekolah. Jika sudah dewasa baru urusan selanjutnya tentang pernikahan dibicarakan kembali,” lanjutnya.

Namun pada tanggal 05 juli 2021, korban pergi ke rumah pelaku tanpa memberitahu orang tuanya, sebab korban takut pelaku tidak bertanggung jawab. Saat korban berada di rumah pelaku, sejak tanggal 05 Juli- 29 Juli 2021, pelaku maupun orang tuanya, tidak pernah memberitahukan bahwa korban berada di rumah mereka.

“Saat korban berada di rumah pelaku dari tanggal 05 Juli- 29 Juli 2021, pelaku menyetubuhi korban berulang kali. Terakhir pada tanggal 28 Juli 2021, sekitar pukul 20.00 WITA bertempat di rumah pelaku. Dan dari kejadian persetubuhan tersebut, korban saat ini telah hamil 3 bulan,” tambahnya.

Pada tanggal 29 Juli 2021, lanjut Kasat Mahdi, orang tua korban menjemput korban di rumah pelaku dan orangtua korban langsung membawa korban datang ke SPKT Polres TTS untuk melaporkan kejadian tersebut, agar dapat ditindaklanjuti sesuai dengan hukum yang berlaku.

Setelah menerima laporan tersebut, Polres TTS kemudian melakukan Visum et Repertum (VER), melakukan penyelidikan, mengirimkan SP2HP, menginterogasi korban dan saksi-saksi, melakukan gelar perkara dari tingkat lidik ke tingkat sidik, menginterogasi calon tersangka sebagai saksi dan melakukan gelar perkara penetapkan tersangka.

“Saat ini telah dilakukanpenangkapan dan penahanan terhadap tersangka,” tandasnya. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed