by

Masyarakat Boawae Laksanakan Ritual Adat “Tu Ze, Loka Libha Noa Corona”

Peserta ritual “Tuu Zee Loka Libha”

ASR
Boawae, floresshadow

Masyarakat Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo, menggelar ritual adat tolak bala untuk menolak virus corona. Ritual yang disebut “Tu Ze, Loka Libha Noa Corona” tersebut dilakukan oleh masyarakat adat Nage Sa Pale, yang meliputi wilayah Desa Rigi, Kelurahan Nagesaphdi, Kelurahan Natanage, Kelurahan Natanage Timur, Kelurahan Nageoga dan Kelurahan Olakile.

Ritual adat tersebut dilaksanakan selama 3 hari, terhitung sejak Selasa, 21 April 2020 hingga Kamis, 23 April 2020.

Pelaksanaan ritual adat “Tu Ze, Loka Libha Noa Corona” dilakukan atas persetujuan Camat dan Forkompimcam Boawae.

Hal tersebut disampaikan Camat Boawae Sales Ujang Dekrasano. “Sebelum ritual adat digelar, saya didatangi oleh para tokoh adat untuk menyampaikan niat mereka melakukan ritual adat tolak bala, sehubungan dengan virus corona,” ungkapnya.

Baca juga : Kisah Bidan Jualan Sayur, Jaga Orang Tua dari Virus

Menimbang bahwa tujuan pelaksanaan ritual adat tersebut adalah untuk kebaikan bersama yaitu mengusir virus corona, lanjut Ujang, pihaknya sebagai pimpinan wilayah mendukung pelaksanaan ritual adat tersebut.

“Agama, adat dan pemerintah adalah 3 batu tungku yang tidak terpisahkan dan berperan saling mendukung, karema itu saya setujui dan dukung pelaksanaan ritual adat tersebut,”ungkapnya. Namun demikian, kata Ujang, pihaknya mensyaratkan agar pelaksanaan ritual adat tersebut harus sejalan dengan protap pencegahan covid 19.

“Persyaratan tersebut disanggupi oleh para tokoh adat. Karena itu, ritual kemudian dilaksanakan dengan hanya melibatkan 10 orang perwakilan dari setiap desa/ kelurahan untuk mencegah terjadinya kerumunan massa. Para peserta ritual juga semuanya mengenakan masker dan menjaga jarak aman dengan peserta lainnya,” tegasnya.

Ujang menyatakan bahwa sebagai pimpinan wilayah, dirinya mengapresiasi niat baik tokoh adat dan segenap masyarakat Kecamatan Boawae yang telah menjalankan keseluruhan proses ritual adat tersebut dengan tertib, aman dan lancar. “Saya sangat mengapresiasi pelaksanaan ritual adat tersebut, sebab para tokoh adat menunjukan kepeduliannya terhadap situasi yang tengah berlangsung, dengan cara melaksanakan ritual adat tolak bala,” katanya.

Jangan lewatkan : Semangat Persaudaraan dalam Mbela, Tinju Adat Nggolombay

Ujang menyambung bahwa pihaknya juga mengapresiasi warga Kecamatan Boawae yang dengan tertib mengikuti keseluruhan proses adat tersebut.” Selama 3 hari pelaksanaan ritual adat, masyarakat tidak diperkenankan untuk beraktifitas di luar rumah. Sangat luar biasa, masyarakat menaati semua ketentuan tersebut dengan tertib. Hal ini sangat saya hargai,” tandasnya.

Persiapan Ritual Adat di depan Kantor Camat Boawae

Tokoh Adat Boawae sekaligus Lurah Nageoga Yohanes Lako menjelaskan bahwa pihaknya melaksanakan ritual adat Tu Ze, Loka Libha Noa Corona tersebut dengan maksud untuk menolak virus corona.”Keputusan untuk menggelar ritual adat tersebut, berangkat dari kepercayaan masyarakat adat yang telah dilaksanakan turun temurun,” katanya.

Di masa lalu, jelas Yohanes, masyarakat adat memiliki tradisi melaksanakan upacara adat “Tu Ze, Loka Libha” untuk mengusir wabah penyakit menular, penyakit pada hewan dan serangan hama pada tumbuhan. “Di masa lalu, pernah terjadi U Boe, atau wabah penyakit yang menyerang sapi dan kerbau, yang menyebabkan kematian serempak dan menyebar dengan sangat cepat. U Boe adalah bahasa daerah, sementara di masa sekarang, U Boe menurut pemahaman medis, disebut Penyakit Antrax. Setelah dilakukan ritual tolak bala
dengan ritual “Tu Ze, Loka Libha” semua penyakit dan hama tersebut musnah,” tuturnya.

Simak : Kapolsek Boawae Bantu Warga Kurang Mampu

Berangkat dari tradisi tersebut, tokoh masyarakat adat Boawae menggelar upacara yang sama dengan niat mengusir corona.

“Ritual yang kami lakukan ada 3 tahap yaitu hari pertama dilakukan “Ti’i Ka Pati Inu “untuk para leluhur di setiap “Pu’u Peo Ate/Ngusa Nabe Tadu Bhada Heli Hele dan di setiap rumah warga. Hari kedua adalah hari puncak pelaksanaan Tu Ze, Loka Libha Noa Corona. Sementara hari ketiga dilakukan Acara Adat Ie atau pemulihan dan pembersihan secara adat,” urainya.

Kowa, perahu kecil yang digunakan dalam ritual tolak bala


Yohanes menyatakan bahwa keseluruhan ritual adat tersebut berjalan dengan baik, aman, tertib dan lancar.”Seluruh proses berjalan baik dan kita optimis hasilnya baik,” harapnya.

Yohanes menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat.”Kami mengapresiasi pemerintah, pihak gereja dan masyarakat untuk dukungannya terhadap ritual adat ini. Selama tiga hari ini, Kecamatan Boawae seolah dilockdown secara budaya.Tidak ada keributan, tidak ada aktifitas di luar rumah, tidak ada lalu lalang kendaraan. Semuanya mendukung ritual adat dengan sangat tertib. Hal ini sangat kami apresiasi, sebab ritual ini dilakukan untuk kebaikan kita semua.” tandasnya.

Para tokoh adat Nage Sa Pale memegang Kowa sebelum ritual adat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

News Feed