by

Penjabat Bupati dan Ketua TP-PKK Sabu Raijua Kunjungi Desa Model Wadumaddi

Penjabat Bupati Sabu Raijua, Drs.Doris Alexander Rihi, M.Si, Rabu (31/03/2021) menghadiri kegiatan kunjungan kerja Ketua TP-PKK Kabupaten Sabu Raijua Stevani Srimurtarti Rihi, bertempat di Desa Model Wadumaddi Kecamatan Hawu Mehara. Hadir pula dalam kegiatan tersebut bersama
Camat Hawu Mehara, Kepala Desa Wadumeddi, para pengurus TP-PKK Kabupaten Sabu Raijua, para perangkat desa, kader posyandu dan undangan lainnya.

Penjabat Bupati Doris dalam kesempatan tersebut menegaskan persoalan pencegahan stunting. Dirinya mengatakan bahwa mencegah stunting sebenarnya adalah hal yang mudah. Bupati Doris mencontohkan bahwa jika disuruh ke posyandu untuk menimbang anak maka masyarakat harus datang.

“Faktor penyebab stunting adalah menikah dalam usia muda sehingga kita tidak tahu bagaimana mengatur jarak kelahiran secara tepat, serta cara mengurus anak dengan baik,” katanya. Penjabat Bupati Doris menambahkan bahwa menurut laporan Camat Hawu Mehara, angka stunting pada kecamatan tersebut mengalami penurunan. “Karenanya tugas kita adalah mempertahankan halĀ  tersebut lalu menuntaskannya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua TP-PKK Stevani Srimurtarti Rihi dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa Desa Model Wadumeddi merupakan Desa Model kedua setelah Desa Model Loboadju Kecamatan Sabu Tengah dan merupakan desa binaan TP-PKK Provinsi NTT yang dibentuk pada Januari Tahun 2021 lalu.

“Wadumeddi ditetapkan sebagai desa model karena memiliki destinasi wisata Kelabba Madja. Karena itu, Kelabba Madja perlu dijaga, dilestarikan oleh seluruh komponen masyarakat,” katanya.

Terkait stunting, Ketua TP-PKK menyatakan bahwa trend penurunan angka stunting hingga tersisa 40 orang saja di Kecamatan Hawu Mehara perlu disyukuri. “Keadaan ini harus terus kita tekan hingga tidak ada satupun yang mengalami stunting lagi,” ungkapnya.


Lebih lanjut Stevani mengutarakan bahwa salah satu program kegiatan PKK adalah untuk mencegah adanya pernikahan dini bagi anak-anak muda. “Salah satu cara pencegahan stunting adalah dengan memberikan pemahaman kepada anak-anak muda supaya tidak menikah pada usia dini. Sebab menikah di usia dini menjadi beban tersendiri dan secara usia tentunya belum siap keadaan mentalnya dan akan berdampak pada pertumbuhan anak dan asupan gizinya,” tegasnya.

Stevani juga menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi NTT mempunyai program untum membantu anak-anak di bawah usia 18 tahun yang belum mempunyai akta kelahiran.” Untuk itu, diperlukan data anak-anak di bawah usia 18 tahun yang belum mempunyai akta kelahiran, agar dapat dibantu,” tandasnya.(PR-HPSabuRaijua).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed