by

Percepat Penanganan Stunting, Pemkab Nagekeo Gelar Rakor Lintas Sektor

Dalam upaya untuk mempercepat pencegahan dan penanganan stunting, Pemerintah Kabupaten Nagekeo, NTT, melalui Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) menggelar Rapat Koordinasi Lintas Sektor, Selasa (13/04/2021), bertempat di Aula Kantor Bupati Nagekeo.

Rapat koordinasi tersebut melibatkan perwakilan instansi terkait antara lain Dinas Kesehatan, Dinas PMD, Dinas Peternakan, Dinas Pangan, Dinas Dukcapil, para camat, para kepala puskesmas, tenaga kesehatan dan sejumlah perangkat desa/kelurahan lokus stunting.

Plh. Kepala Bapelitbang Kabupaten Nagekeo Kasimirus Dhoy melalui Kepala Sub Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, Laurentius Y Bitua, menjelaskan bahwa terdapat 24 desa yang tersebar di lima kecamatan di Kabupaten Nagekeo yang menjadi lokus stunting.

“Desa-desa tersebut adalah Udiworowatu, Odaute, Kotakeo, Keli, Podenura, Lodaolo, Wokowoe, Paumali, Ulupulu I, Bidoa, Wokodekororo, Kotakeo I, Kotawuji Timur, Tonggo, Lewangera, Pautola, Wajomara, Ngera, Woedoa, Waekokak, Ulupulu, Kotawuji Barat, Wuliwalo dan Ngegedhawe,” urainya.

Laurentius menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut, pemerintah desa dan kelurahan  diwajibkan membawa serta rekapan program/ kegiatan yang dibiayai Dana Desa. “Program/kegiatan dimaksud adalah yang mendukung upaya percepatan, pencegahan dan penanganan stunting, yang telah termuat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDES),” ujarnya.

Laurentius Y. Bitua

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan drg. Ellya Dewi mengatakan bahwa terdapat aplikasi khusus dari Kementerian Kesehatan yang dapat menentukan stunting pada bayi yaitu dengan mengukur perbandingan tinggi badan dan usia.

Ellya melanjutkan bahwa bayi yang lahir stunting diakibatkan oleh permasalahan kesehatan pada ibu hamil.” Berdasarkan data, terdapat sebanyak 37% dari 100 orang ibu hamil yang mengalami kekurangan zat besi, sehingga berdampak pada pendarahan ketika melahirkan,” paparnya.

Ellya menegaskan bahwa intervensi gizi spesifik kepada ibu hamil wajib diperhatikan, terutama untuk asupan protein nabati dan hewani.

Dalam kesempatan tersebut, Camat Nangaroro Gaspar Taka menyarankan agar pemerintah memberikan pendampingan kepada ibu hamil, terutama yang berusia muda.

“Saran saya, kita dampingi keluarga muda mulai dari masa kehamilan. Bukan nanti bayi lahir baru tarik meter. Di setiap desa harus ada pendamping ibu hamil. Mereka harus dikasih intensif. Di Kecamatan Nangaroro kita sudah pastikan bahwa sudah ada tenaga pemantau ibu hamil,” ujar Gaspar.

Gaspar mengatakan, khusus di wilayah Kecamatan Nangaroro, pihak pemerintah kecamatan berkerja sama dengan pemerintah desa lokus stunting menggalakan aksi penanaman 1000 hektare sorgum guna memerangi stunting. Gasparq juga menyarankan agar para Ketua RT dilibatkan dalam upaya mengatasi stunting. (RR)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed