by

Plan Indonesia Salurkan Bantuan untuk Penyintas Banjir Bandang di Lembata

Lewoleba,- Serangkaian bencana, mulai dari banjir bandang, tanah longsor hingga badai tropis menimpa Provinsi Nusa Tenggara Timur sejak Sabtu (3/4). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan adanya dua bibit siklon tropis yang dapat memicu cuaca ekstrem di NTT, hingga Jumat (9/4) mendatang, dengan risiko banjir bandang, yang kembali diumumkan untuk Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan.

Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) yang bekerja di Kabupaten Lembata sejak 2006 mencatat bahwa setidaknya ada sekitar 2.227 dari 10 ribuan anak dampingan (1.186 anak perempuan dan 1.041 anak laki-laki) beserta keluarganya yang terkena imbas dari rangkaian bencana ini.

Menanggapi situasi tersebut, Plan Indonesia bergerak melakukan kaji cepat kebutuhan (rapid need assessment) untuk memetakan bantuan bagi anak dan keluarga terdampak mulai Senin (5/4) hingga Rabu (7/4). Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia, mengatakan bahwa kaji cepat dan bantuan ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan penyintas selama di penampungan.

“Anak-anak dan keluarga penyintas selalu berada dalam posisi yang rentan ketika bencana terjadi. Berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan instansi terkait, kami akan memetakan dan menyalurkan bantuan, agar anak-anak dan keluarga mereka bisa tetap mengakses kebutuhan dasar di tengah bencana ini,” ujar Dini pada Selasa (6/4).

Beberapa kondisi pasca bencana di Nusa Tenggara Timur—seperti putusnya sambungan listrik, saluran telekomunikasi, serta akses menuju wilayah terdampak—menjadikan bantuan lebih sulit diberikan kepada para penyintas. Warga juga masih harus waspada, dikarenakan Gunung Ili Lewotolok yang berstatus siaga tiga dan status zona oranye di Lembata, menandakan level penularan COVID-19 di tingkat medium hingga tinggi di daerah tersebut.

Ketika ditemui di lapangan, Ervin (11 tahun), salah satu anak dampingan Plan Indonesia, menyampaikan bentuk bantuan yang diharapkannya selama mengungsi.

“Kami sangat membutuhkan pakaian, selimut, dan alas tidur. Kalau malam, kami kedinginan karena tidur di lantai,” ujar Ervin kepada tim Plan Indonesia di Kabupaten Lembata, Senin (5/4).

Tak hanya memetakan kaji cepat kebutuhan selama beberapa hari ke depan, tim lapangan Plan Indonesia juga telah mulai memberikan bantuan awal kepada penyintas. Bantuan yang sudah tersalurkan di antaranya 105 paket hunian darurat (emergency shelter tool kit) berupa tikar dan selimut, juga 30 paket manajemen kebersihan menstruasi (menstrual hygiene management kit) yang dibagikan pada Minggu (4/4) kepada warga. Bantuan ini disalurkan dengan memperhatikan protokol kesehatan pandemik COVID-19, demi menjaga kesehatan masyarakat dan juga petugas kemanusiaan setempat.

Selain itu, dalam kegiatan respons tanggap darurat kali ini, tim Plan Indonesia melakukan penggalangan dana melalui kitabisa.com, demi meningkatkan jumlah bantuan yang disalurkan. Nantinya, dana yang diterima akan disalurkan dalam bentuk bantuan logistik yang dibutuhkan para penyintas banjir bandang Nusa Tenggara Timur, sesuai hasil kaji cepat kebutuhan Plan Indonesia.

Kegiatan respons tanggap darurat Plan Indonesia merupakan bagian dari Program Ketangguhan dan Kemanusiaan, satu dari empat pilar utama Plan Indonesia. Saat bencana terjadi, Plan Indonesia bersama pemerintah daerah dan mitra terkait berupaya membantu masyarakat yang terdampak melalui respons tanggap bencana (emergency response). Lingkup bencana yang masuk dalam kegiatan ini meliputi bencana alam, seperti gempa, tsunami, dan banjir, juga bencana non-alam seperti pandemik COVID-19.

Sebagai lembaga yang bergerak di bidang pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan, Plan Indonesia mengutamakan kebutuhan dan perlindungan terhadap anak-anak dan keluarga penyintas dalam setiap proses tanggap darurat.  Dalam kondisi bencana yang mengharuskan para penyintas harus berlindung di pengungsian, kelompok anak, perempuan, dan orang dengan disabilitas berada dalam posisi yang semakin rentan.(RR/PR)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed