by

PLAN, INOVASI dan Dinas PK Selenggarakan Pelatihan Penguatan Kapasitas bagi Pendamping Forades

Yayasan PLAN Internasional Area Flores, INOVASI NTT dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo, menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Kapasitas bagi 22 orang Pendamping Kelompok/ Forum Anak Desa (Forades) binaan Yayasan PLAN Internasional dan 2 orang dewan penasihat remaja Plan Internasional di Kabupaten Nagekeo. Kegiatan diselenggarakan selama 4 hari yaitu tanggal 2-5 Juni 2021, bertempat di Aula Hotel Samudra Mbay.

Materi utama yang disampaikan selama kegiatan adalah tentang Literasi Dasar. Narasumber berjumlah empat orang yang merupakan para guru Fasilitator Daerah INOVASI yaitu Ali Zainal, Pancratius Loy, Alexius Wae dan Maria Martina Petra Rosok.

Deputi Program Implementasi Area Manager Yayasan PLAN Indonesia Area Flores Zuniatmi menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut adalah bentuk kolaborasi antara Yayasan PLAN Indonesia, INOVASI dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo untuk mendukung pendidikan di Kabupaten Nagekeo.

“Dalam masa pandemi, sebagian siswa belajar dari rumah dan sebagian lagi belajar di sekolah. INOVASI dan Dinas PK telah memulai melalui jalur formal yaitu melalui guru-guru sekolah. Sementara PLAN memiliki kelompok-kelompok belajar, salah satunya adalah Forum Anak Desa yang didampingi relawan PLAN, karang taruna, guru PAUD, guru SD maupun kader/tutor PAUD. Kegiatan Forum Anak Desa ini adalah bermain dan belajar dalam bentuk Ruang Ramah Anak dan Rumah Baca,” jelasnya.

Karena Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo bersama INOVASI telah melakukan capasity building untuk para guru, lanjut Zuniatmi, Yayasan PLAN juga ingin meningkatkan kapasitas para pendamping Forum Anak Desa untuk beberapa isu besar yaitu literasi, kesetaraan gender maupun tumbuhkembang anak.

“Harapan kami agar setelah pelatihan ini, para pendamping dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dan lebih intens dalam mendampingi kelompok-kelompok anak, sehingga keterampilan baca tulis anak dapat meningkat,” ujarnya.

District Officer INOVASI untuk Kabupaten Nagekeo Ami Priwardhani menjelaskan para Fasilitator Daerah INOVASI telah memperoleh oelatihan tentang literasi dasar. “Karenanya, saat dimintai kesediaan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar INOVASI terlibat dalam kegiatan ini, kami menyambut baik. Semoga ilmu yang dibagikan para Fasda INOVASI dapat membantu para pendamping Forades untuk kemudian diaplikasikan di desa/kelurahan masing-masing,” ungkapnya.

Kepala Bidang SD pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo Venan Minggu menyampaikan apresiasinya untuk INOVASI dan Yayasan PLAN Indonesia. “Saya sungguh mengapresiasi mitra pemerintah antara lain Yayasan PLAN dan INOVASI, yang selama ini telah sangat berperan dalam membantu pemerintah dalam bidang pendidikan,” katanya.

Venan menjelaskan bahwa selama masa pandemi, para siswa melaksanakan kegiatan BDR. “Idealnya, para guru berada di sekolah dan memberikan pendidikan secara online/daring. Namun pada kenyataannya, karena beberapa kendala antara lain jaringan internet maupun ketersediaan gadget, kegiatan BDR tidak berjalan maksimal sehingga satu tahun terakhir ini, terjadi loss learning,” katanya.

Venan melanjutkan bahwa peran para pendamping Forades sangat penting, terutama dalam masa pandemi. ” Kami sangat menghargai para pendamping, yang telah turut berupaya memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendidikan di masa pandemi ini. Harapan kami, agar semua pihak dapat tetap bersinergi mendukung pendidikan di Nagekeo,” tutupnya.

Maria Martina Petra Rosok, guru SDI Danga yang merupakan Fasda Inovasi  menyatakan bahwa dirinya sangat antusias memberikan pelatihan. “Sebab pemahaman akan literasi dasar merupakan hal yang sangat penting bagi pengajar, baik guru maupun pendamping Forades. Anak-anak dengan kemampuan literasi yang baik, akan dapat dengan mudah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang peserta pelatihan Donatus Mere dari Desa Ladolima, menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam pelatihan tersebut adalah hal yang sangat membanggakan.

“Sebagai pendamping yang tidak mempunyai basic ilmu keguruan, selama ini, saya hanya sekedar mengajari anak-anak dengan cara-cara terbatas. Ternyata dalam pelatihan ini, saya memperoleh banyak pemahaman baru, antara lain kita dapat menggunakan games yang seru dan menarik untuk mengajari anak-anak membaca dan menulis. Semoga kegiatan sejenis dapat terus dilakukan, agar kami para pendamping Forades, dapat terus mendapatkan ilmu baru, untuk kemudian dapat kami ajarkan kepada anak-anak di lingkungan kami masing-masing,” tutupnya.(RR)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed