by

Stok Pangan Menipis, Warga Woedoa Konsumsi Ubi Hutan Beracun

Penulis : Oktovianus Dhalu
Editor : ASR
Nangaroro, floresshadow

Stok pangan yang menipis di tengah pandemi Covid-19, membuat warga Desa Woedoa, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT, harus mengkonsumsi Ubi Hutan Beracun.


Ubi Hutan beracun tersebut, dalam bahasa masyarakat setempat disebut Uwi Odo atau Ondo.
Untuk mendapatkan ondo (Dioscorea Hispida), masyarakat Desa Woedoa harus mempuh perjalanan sejauh 8 kilometer untuk sampai ke hutan.


Salah seorang warga Desa  Woedoa Maksimus Sela (48) menyarakan bahwa warga desanya telah terbiasa mengkonsumsi ondo sebagai makanan pokok. “Saya dengan istri saya, tiap tahun selalu makan Ondo. Menggali dan mengkonsumsi Ondo sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat desa kami,”ungkapnya.

Penggalian Ondo


Namun Maksimus mengakui bahwa seharusnya mereka baru mulai mengkonsumsi ondo pada Bulan Juni-Juli setiap tahunnya.”Tapi sekarang, dengan adanya pandemi covid, keadaan menjadi serba sulit. Persediaan pangan kami menipis sehingga mau tidak mau, kami harus mulai mengkonsumsi ondo,” ungkapnya. Maksimus menjelaskan bahwa ondo  mampu mencukupi kebutuhan energi bagi keluarganya. “Kalau makan ondo pagi hari, kami bisa tahan sampai sekitar jam 12 siang. Berbeda dengan nasi yang membuat kita cepat lapar,” ia menjelaskan.

Permasalahannya, lanjut Maksimus, ondo membutuhkan proses pengolahan yang panjang sebelum dapat dikonsumsi. “Ondo akan sangat berbahaya jika tidak kita olah dengan tepat. Jadi, harus punya pemahaman yang cukup jika ingin makan ondo,” terangnya.

Warga sedang mengupas ondo


Hal serupa disampaikan Isabela Suwo (46). Isabela menyatakan bahwa leluhurnya telah terbiasa mengkonsumsi ondo. “Tetapi harus paham pengolahannya. Jika tidak, ondo dapat me yebabkan keracunan bahkan kematian,” ungkapnya.
Isabela menguraikan tahapan dan proses pengolahan ondo menurut tradisi masyarakat setempat yang masih sangat tradisional.

Baca juga :Kita Tidak Kekurangan Pangan, Kita Kurang Kemauan Untuk Makan Yang Kita Punya


“Setelah ondo digali, ondo harus dikupas kulitnya. Selanjutnya Ondo diiris tipis menggunakan papan mall,” katanya. Kemudian, lanjut Isabela, ondo direndam dalam ember berisi air dan ditaburi garam.” Selanjutnya ondo dimasukan ke dalam karung, lalu direndam di sungai di bawah air yang mengalir, selama satu malam. “Jika irisnya tebal, perendaman bisa memakan waktu hingga tiga hari,” paparnya.


Setelah proses perendaman, ondo lalu dijemur di bawah terik matahari. “Setelah ondo kering, ondo baru siap dimasak.Biasanya ondo dimasak dengan cara dikukus lalu ditaburi parutan kelapa. Bisa juga ditambahi kacang-kacangan dan sayuran,” urainya.

Mengiris ondo


Tokoh muda Desa Woedoa Konstantinus Dhae (35) saat ditemui aksaranusa.com menjelaskan bahwa Ondo atau Odo menjadi sebenarnya menjadi  pangan pilihan terakhir pengganti nasi.” Ubi ini sangat berbahaya dan beracun, perlu langkah panjang dan tepat untuk membuatnya aman dikonsumsi,”jelasnya.

Warga membawa irisan ondo untuk direndam di kali


Konstantinus mengungkapkan bahwa hasil pangan milik warga semakin sulit dipasarkan. ” Penutupan aktifitas pasar mingguan akibat pandemi covid membuat warga kesulitan menjual hasil pertanian dan perkebunannya seperti kemiri. Sementara harga sembako semakin mahal. Hal tersebut menyulitkan warga untuk membeli beras, sehingga warga terpaksa pergi ke hutan untuk mendapatkan ondo sebagai pengganti beras,” ungkapnya.

News Feed