by

Wakil Ketua MPR RI: Semoga Kerukunan di Nagekeo Mengalir Menjadi Kekuatan Indonesia

ASR
Boawae, Aksara Nusa

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengharapkan agar kerukunan, kekeluargaan dan kebersamaan yang disaksikannya di Nagekeo dapat mengalir ke seluruh Indonesia. Hal tersebut disampaikan Jazilul saat menghadiri Upacara Adat “Tege Ana Deo” Suku Deu di Kampung Boawae Kabupaten Nagekeo Flores NTT, Kamis, 30 Juli 2020.

Suku Deu Boawae
Tokoh dan anggota Suku Deu

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPR RI Dipo Nusantara Pua Upa, Ketua Komisi V DPRD NTT Yunus Takandewa, Wakil Ketua Komisi II DPRD NTT Patris Lali Wolo, Anggota Komisi II DPRD NTT Paulinus Nuwa Veto, Bupati Ngada Paulus Soliwoa, Wakil Bupati Nagakeo Marianus Waja, Ketua Pengadilan Negeri Bajawa Herbert Harefa, Ketua TP-PKK Kabupaten Ngada Ny. Kurniati Soliwoa, Pimpinan DPRD Kabupaten Nagekeo Yosefus Dhenga, Kapolres Nagekeo Agustinus Hendrik Fai, sejumlah anggota DPRD Kabupaten Nagekeo serta undangan lainnya.

Jazilul Fawaid
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid

“Hari ini saya menyaksikan kebudayaan yang sangat luar biasa. Upacara adat hari ini menghadirkan begitu banyak orang dan berjalan dengan sangat baik meskipun melibatkan begitu banyak orang,” katanya.

Jazilul menyatakan bahwa dirinya sangat menghargai kesempatan yang diperolehnya untuk dapat menghadiri kegiatan tersebut.

“Saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya. Hari ini gambaran dari persatuan, kerukunan dan kebersamaan yang merupakan warisan budaya Bangsa Indonesia, tergambar dengan baik dalam acara Adat Suku Deu di Boawae Nagekeo. Saya berharap agar persatuan, kekeluargaan, kerukunan dan kebersamaan ini mengalir ke seluruh Indonesia, menjadi kekuatan dan energi untuk persatuan bangsa. Semoga  persatuan dan kebersamaan yang lahir dari akar budaya yang kuat seperti hari ini, dapat spirit untuk seluruh pembangunan di Indonesia,” tegasnya.

Kampung Adat Boawae
Salah satu rangkaian kegiatan dalam acara adat “Tege Ana Deo”

Tokoh Adat Suku Deu Marselinus F. Ajo Bupu menyampaikan bahwa “Tege Ana Deo” merupakan upacara puncak yaitu acara mentahtahkan kembali patung/totem sepasang suami istri “Ana Deo” ke dalam rumah adat atau Sa’o Waja “Tiwu Deu” di Boawae.

“Sebelumnya telah ada rangkaian adat yang cukup panjang selama kurang lebih satu bulan. Rangkaian tersebut antara lain peminangan (pemilihan) pohon Hebu untuk pembuatan patung, pemotongan, pengusungan, serta proses pembuatan patung. Semuanya dilakukan dengan perhitungan hukum adat. Patung “Ana Deo” sendiri dikerjakan oleh Daeng Matheus Meme yang berasal dari Suku Rato di Waerana Manggarai Timur selama kurang lebih 14 hari,” jelasnya.

Tege Ana Deo
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid, Anggota DPR RI Dipo Nusantara bergambar bersama Tokoh Adat Suku Deu Marselinus F. Ajo Bupu

Marselinus yang juga merupakan Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo tersebut menyatakan bahwa upacara adat “Tege Ana Deo” merupakan sebuah kegiatan langka.”Tege Ana Deo” kami lakukan kembali setelah sebelumnya patung/totem Ana Deo yang lama, hilang pada sekitar tahun 1990an. “Ana Deo adalah Gae Sao atau spirit dari Sa’o Waja “Tiwu Deu” karena itu Ana Deo” harus ada di dalam Sa’o Waja “Tiwu Deu”,” ungkapnya.

Kampung Boawae
Patung Ana Deo diarak mengelilingi Peo di Kampung Boawae diiringi tarian adat

Marselinus berharap agar agar dengan dengan “Tege Ana Deo” kewajiban Suku Deu terhadap adat, budaya dan leluhur terpenuhi. “Semoga kehadiran Ana Deo yang merupakan spirit Suku Deu menjadi berkat, kekuatan dan pemersatu Suku Deu hingga ke anak cucu kami,” pungkasnya.

Pantauan Aksara Nusa, upacara adat “Tege Ana Deo” tersebut berlangsung sakral. Tampak ribuan orang dari berbagai komunitas adat menghadiri upacara adat tersebut hingga selesai.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

News Feed